Matematika yang Memeluk, Bukan Menghakimi: Membaca Tragedi Ngada dari Perspektif Sosio-Ekologi

Belajar dalam Pelukan Empati (Ilustrasi dibuat dengan bantuan AI)
Seorang anak kelas IV SD di Ngada, Nusa Tenggara Timur, mengakhiri hidupnya karena tak mampu membeli buku dan pena seharga kurang dari Rp10.000. Nama YBS (10) kini dikenang bukan karena prestasi, melainkan karena kepergian yang menyisakan pertanyaan mendalam: mengapa angka sekecil itu bisa terasa begitu berat?
Uang Rp10.000 mungkin tampak kecil dalam hitungan orang dewasa. Namun, bagi seorang anak yang hidup dalam keterbatasan, angka itu dapat berubah menjadi simbol rasa malu, tekanan, dan ketidakberdayaan. Di balik nominal tersebut tersimpan beban psikologis yang tidak sederhana: takut dianggap tidak siap, takut tertinggal, takut dinilai tidak mampu.
Tragedi ini tidak bisa dibaca sebagai peristiwa individual semata. Ini adalah sinyal bahwa ada relasi yang retak di sekitar anak, relasi antara sekolah, keluarga, dan lingkungan sosialnya.
1. Luka Sosial di Balik Angka
Dalam perspektif sosio-ekologi, seorang anak hidup dalam jejaring sistem yang saling memengaruhi: keluarga, sekolah, teman sebaya, dan komunitas. Ketika seorang anak sampai pada titik putus asa, kita tidak bisa hanya bertanya, "Apa yang salah pada dirinya?" Kita juga perlu bertanya, "Apa yang sedang terjadi dalam sistem yang mengelilinginya?"
Sekolah seharusnya menjadi ruang aman. Namun pendidikan formal sering kali lebih menonjolkan capaian angka daripada rasa aman dan kesehatan mental siswa. Nilai, peringkat, dan target ujian tanpa sadar menjadi acuan bagi anak untuk menilai dirinya sendiri. Anak yang kesulitan memahami pelajaran mudah merasa dirinya gagal, bukan hanya secara akademik, tetapi juga secara personal.
Di sinilah matematika sering berada dalam posisi yang dilematis. Matematika dirancang untuk melatih logika dan kemampuan memecahkan masalah. Namun, dalam praktiknya, matematika kerap menjadi sumber kecemasan. Bukan karena sifat ilmunya, melainkan karena cara ia diajarkan dan dimaknai. Ketika jawaban benar menjadi satu-satunya ukuran, kesalahan terasa seperti penghakiman. Ketika nilai menjadi identitas, angka di rapor bisa berubah menjadi penentu kepercayaan diri.
2. Menghidupkan Matematika dalam Konteks Anak
Bagaimana jika kita membalik narasi itu? Bagaimana jika matematika tidak lagi berdiri sebagai hakim, melainkan hadir sebagai pelukan yang membantu anak memahami dunianya?
Pendekatan pembelajaran berbasis sosio-ekologi menawarkan arah berbeda. Ia memandang siswa sebagai bagian dari sistem kehidupan yang nyata. Artinya, pembelajaran tidak boleh terlepas dari konteks sosial dan pengalaman hidup anak. Matematika tidak harus selalu dimulai dari rumus abstrak. Ia bisa lahir dari percakapan sederhana di rumah: menghitung sisa uang belanja, membandingkan harga kebutuhan pokok, atau merancang tabungan kecil untuk membeli perlengkapan sekolah. Dalam konteks seperti ini, matematika menjadi alat komunikasi, bukan alat seleksi.
Di kelas, guru dapat merancang soal yang kontekstual dan reflektif. Misalnya: "Jika kamu memiliki Rp 5.000, alat belajar apa yang paling kamu butuhkan? Jelaskan alasanmu." Soal ini tetap melatih logika dan pengambilan keputusan, tetapi juga membuka ruang bagi siswa untuk berbicara tentang realitasnya. Ketika pengalaman hidup siswa diakui, matematika tidak lagi terasa asing. Ia menjadi bagian dari keseharian, bukan ancaman yang harus ditaklukkan.
Pendekatan ini juga dapat mengurangi beban emosional. Ketika proses berpikir dihargai sama pentingnya dengan jawaban akhir maka tekanan akan berkurang. Anak tidak lagi takut salah, karena kesalahan dipahami sebagai bagian alami dari belajar.
3. Pendidikan sebagai Jaring Penopang
Pendekatan sosio ekologi, mengingatkan kita bahwa kelas bukan sekadar ruang untuk mentransfer ilmu, melainkan ruang relasi. Kolaborasi lebih penting daripada kompetisi semata. Diskusi kelompok, atau problem posing berbasis pengalaman sehari-hari dapat membangun rasa memiliki (sense of belonging). Rasa diterima dan dihargai merupakan fondasi penting kesehatan mental anak.
Penggunaan sumber daya lokal sebagai alat belajar berupa batu, daun, biji-bijian juga membantu menghapus stigma keterbatasan. Semua siswa dapat berpartisipasi tanpa merasa kurang hanya karena tidak memiliki perlengkapan tertentu. Kesetaraan akses adalah bentuk penghormatan terhadap martabat anak.
Pada akhirnya, yang ingin kita bangun bukan sekadar kemampuan menghitung, tetapi keyakinan bahwa dirinya mampu. Ketika seorang anak berhasil memecahkan masalah yang relevan dengan hidupnya, seperti mengatur uang jajan, membantu orang tua menghitung kebutuhan, atau merancang tabungan kecil maka ia merasakan pengalaman berharga yaitu "Aku bisa."
Keyakinan inilah yang menjadi fondasi ketahanan mental.
Tragedi di Ngada merupakan pengingat bahwa pendidikan adalah ekosistem kehidupan. Guru, orang tua, sekolah, dan komunitas adalah simpul-simpul yang saling terhubung. Jika satu simpul melemah, yang lain perlu menguatkan. Barangkali yang menyelamatkan seorang anak bukan hanya kebijakan besar, tetapi interaksi kecil yang penuh empati: senyum guru yang tidak menghakimi, orang tua yang mengajak berdiskusi mencari solusi, atau teman yang berkata, "Ayo, kita kerjakan bersama."
Karena pada akhirnya, nilai seorang anak tidak ditentukan oleh buku yang ia miliki atau angka yang ia peroleh. Nilai itu terletak pada bagaimana ia diperlakukan sebagai manusia. Dan mungkin, di situlah pelajaran terbesar matematika: bukan hanya tentang menghitung angka, tetapi tentang belajar menghitung empati.
Lalu, di ruang-ruang kelas kita hari ini, matematika hadir sebagai apa: alat seleksi untuk menentukan siapa yang paling kuat, atau pelukan yang menguatkan setiap anak bahwa dirinya cukup dan berharga?
(Ciptianingsari Ayu Vitantri)
Mahasiswa S3 Pendidikan Matematika Unesa